Bu Ani, Ibu sekarang pasti lg sibuk. Ibu msh capek ya mikirin APBN-P yang penting buat rakyat tp malah diboikot wakilnya. Ibu jg pasti capek ngejelasin penyelesaian kasus Gayus kemana-mana. Skarang Ibu pasti tambah kesel gara2 bakal diminta nyiapin 1,8 Triliun buat bapak2 yg otak eh gedungnya lg miring itu.
Bu, meski ibu lg sibuk, tp jangan lupain kami yah, anak2mu ini. Hati kami lg gak tenang bu denger berita tadi siang. Katanya remunerasi kami mau dicabut ama penghuni Senayan. Apakah kami semua layak dihukum seperti ini Bu? Tidak semua dari kami kan Bu yang bersalah.
Ibu tahu kan. Sejak reformasi birokrasi dimulai, kita sudah berubah. Meski mungkin tidak sesempurna yg diharapkan orang setidaknya kita sudah mencoba berbenah Bu. Dimulai dari diri kami sendiri. Ibu ingat kan, dulu mungkin sering ada desas-desus kalo mau bikin NPWP perlu sekian ratus ribu, mau jadi PKP sekian juta, mau dapet SP2D harus ngasih persenan, mau ngeluarin barang di pelabuhan harus nyuap petugasnya dulu, mau urusan begini sekian rupiah dll. Sekarang, Insya Allah sudah jarang kan Bu orang yg mengeluh seperti itu. Memang masih ada oknum-oknum yang nakal, tapi sudah semakin terkikis jumlah mereka Bu.
Akhir-akhir ini banyak ujian datang. Muncul si Gayus dan cecunguk-cecunguk lainnya. Kita ditelanjangi habis-habisan. Benar kita mengakui masih ada orang-orang seperti mereka. Tapi tidak semuanya kan. Masih ada prestasi kita yang menunjukkan kita sedang memperbaiki diri. Pelayanan publik kita beberapa kali mendapat penghargaan, penerimaan terus membaik, stabilitas fiskal kita masih bagus, dan beberapa lagi yang lainnya.
Kita sudah tidak seperti dulu ya Bu. Bahkan mas Gayus pun mengakui di depan bapak-bapak Satgas anti mafia hukum kalo sekarang ini ruang untuk melakukan penyelewangan sudah semakin sempit. Artinya sistem yang ibu rintis sudah mulai bekerja dengan baik. Sayang kalo ini tidak dilanjutkan. Jangan sampai karena gayus setitik rusak susu se-Kemenkeu.
Maaf Bu, kami minta tolong ama Ibu. Gak mungkin lagi kami minta bapak-bapak (gedung) miring itu mendengarkan kami. Kami juga sakit hati Bu, hanya karena satu Gayus dan kawan-kawannya, kami diancam seperti ini. Tapi saat puluhan bahkan ratusan dari mereka terjerat kasus korupsi tidak ada yang menyinggung gaji dan tunjangan fantastis mereka. Apa mereka gak malu ya Bu???
Saya takut Bu, jika remunerasi dicabut, anak-anak Ibu ini kembali seperti dulu, kembali ke jaman jahiliyah lagi. Sayang kan Bu kalo usaha keras kita ini harus berakhir dengan kembali pada kebobrokan seperti dulu lagi.
Dulu ada dosen saya yang mengatakan Ibu adalah manajer yang brilian tapi bukan pemimpin yang baik. Ibu tidak bisa disebut sbg pemimpin yg baik karena jarang berperan sbg pengayom kami, tidak cakap membela anak buahnya sendiri. Menurut saya itu salah. Saya yakin dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, Ibu bisa menjadi pemimpin hebat yang berdiri di garda depan untuk mengayomi anak-anaknya. Ibu akan lantang memperjuangkan nasib kami di depan mereka yg mengaku wakil rakyat itu.
Di sela-sela memikirkan kasus Century, di sela-sela menghadapi boikot anggota dewan, di sela-sela menemui penyelidik KPK, di sela-sepa mengurus kementerian ini, kami yakin Ibu jg concern dengan masalah ini. Selamat berjuang Bu. Kami selalu mendukungmu…
Nb: Kalo Ibu raker lagi dengan Panitia kerja perpajakan, yang vokal mengkritik tax ratio kita, tolong diingetin lagi Bu, masih ada 130-an anggota dewan yg belum punya NPWP ya Bu.
sumber: http://polhukam.kompasiana.com/2010/05/04/ibu-menteri-dengarkan-curhat-kami/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar